DIBALIK SEMUA INI






Perasaan bercampur aduk kurasakan saat itu, dengan  mengenakan pakaian osim yang terlalu kecil dari ukuran tubuhku. Aku berjalan bersama kawan seperjuanganku menyusuri lorong melewati barisan pada murid yang berbaris rapi, lalu kami menempati posisi bersebelahan dengan pasukan pengibar bendera. Ya, hari itu kami melaksanakan upacara bendera rutin setiap dua minggu sekali pada hari senin. Disamping upacara bendera, pada saat yang sama kami melaksanakan pelantikan pengurus OSIM MAN 2 Banjarnegara Masa Bhakti 2016/2017, maka dari itu perasaanku campur aduk dalam melaksanakannya. Saat yang ditunggu tiba, yang kuharapkan saat itu adalah semoga hari ini segera berakhir dan aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi karena begitu nervous-nya. Setelah mengucapkan janji dan sumpah, aku merasa ada hal berbeda seketika. Aku masih tidak percaya dengan pelantikanku sebagai pengurus osim bersama orang-orang baru yang masih belum megenali satu sama lain dan sekarang aku telah dilantik sebagai Sekretaris  Umum yang dibawahi langsung oleh ketua umum. Ah, sempat aku merasa kurang siap untuk menerima semua ini, sebenarnya aku ingin mencoba menolak tawaran itu, tapi rasanya sulit karena aku tidak mungkin membuat kakak kelasku kecewa bila aku menolaknya. Setelah semua prosesi pelantikan berlalu, dua bulan kemudian saat liburan UM (Ujian Madrasah) kelas XII, sifat egoisku, disaat seperti itu aku seperti dihadapi beberapa pilihan yaitu tetap berjalannya segala kegiatan diluar pelajaran atau berhenti dan mengikuti pelajaran tanpa beban apapun, semua itu terpikir karena disamping aku harus menjadi seorang sekretaris yang disaat sibuk tidak bisa dihindari dan ektrakurikuler yang lumayan padat dengan alasan persiapanku untuk menghadapi kelas XII yang tidak lama lagi akan aku hadapi menjadi alasanku untuk meninggalkan semua itu. Yang pada akhirnya aku hanya bisa melepas ekstrakurikuler yang sangat aku kagumi selama ini dan jujur saja aku masih meninggalkan hati untuk tetap mendukung & mencintai ekstrakurikuler tersebut. Pasus, Pasukan Khusus yang memiliki kisah unik, menarik, dan terbilang serius tapi santai disetiap kegiatannya menjadi alasanku untuk tetap mencintainya. Pasus menjadi awal ceritaku menjadi petugas upacara sebagai pembaca do’a serta menjadi awal semua performance-ku didepan warga madrasah dengan seragam gagah khasnya. Kini Pasus yang hanya kumiliki hanya sebatas cerita itu-itu saja, karena aku berhenti disaat hal-hal menarik lain dan lebih spektakuler belum terjadi seperti saat ini dan beberapa orang baru yang kukenal kurasa akan dapat membuat pasus menjadi lebih baik dan lebih maju dibanding saat aku masih berkutik didalamnya. Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk mengikuti lomba gerak jalan gayeng 2015 karena itu adalah kali pertamaku mengikuti lomba dengan membawa nama madrasah, aku sangat senang dan bahagia pernah berada di Pasus dan hari ini 26 Oktober 2016, Pasus telah melaksanakan pergantian pengurus, selamat yaaa :). Lalu, yang tak ketinggalan adalah ekstrakurikuler Marching Band, yang pada awal aku masuk madrasah, aku merasa kurang tertarik dengan ekstra yang satu ini walaupun sudah banyak konstribusi besar telah diberikan ekstra Marching Band kepada madrasah dan memiliki nama yang harum dimata masyarakat Banjarnegara. Namun semua itu seketika berubah ketika aku memaksakan diri untuk menyaksikan penampilan mereka di Parade Budaya tahun 2015. Aku, Ufi, Qoni, dan Qiqi saat event itu rela untuk berlari mengejar barisan Marching Band dan berusaha untuk dapat menyaksikannya dengan spot yang jelas karena kita tidak ingin melewatkan moment yang tidak akan datang kedua kalinya ini. Hingga setelah mereka memberi penampilannya, pikiranku seketika seperti terhipnotis untuk bergabung di Marching Band dan saat itu aku sempat berkata seraya membayangkan kepada temanku Nurul Saputra, aku bertanya, “Ih, nyong ka rasane pingin melu marching band we rul, tapi nyong wedi mbok latihane keras” dan ia menanggapinya dengan agak sedikit kurang percaya dengan angan-anganku. Tiba-tiba, entah angin dari mana, terdengar kabar bahwa dibutuhkan kelas XI yang ingin mengikuti Marching Band dapat mendaftar ke Pak Awal yang merupakan pembina Marching Band. Walau hanya sebatas obrolan dari mulut ke mulut aku masih tidak percaya, lalu kucoba mengklarifikasi dengan menghubungi Surya yang merupakan salah satu anggota Marching Band yang kini menjadi ketua sekaligus FC dan ia membenarkannya. Langsung saja keesokan harinya aku bergegas ke kantor guru untuk menemui Pak Awal ditemani dengan Asep yang juga merupakan anggota Marching Band. Saat aku menemui Pak Awal, beliau sempat menanyakan hal yang kupandang adalah sebuah pertanyaan atas keraguannya terhadapku untuk mengikuti Marching Band, beliau bertanya “Yakin, ko kuat nang Marching? Mengko lah nang tengah-tengah mundur” lalu dengan sedikit menahan perasaan yang bercampur aduk aku langsung saja menjawab dengan singkat “Ya, Pak” dan akhirnya aku diperbolehkan untuk mengikuti tahap latihan pada keesokan hari. Setelah dinyatakan diterima sejak diadakannya Pelatihan dan melewati berbagai proses, aku bertahan sebagai anggota hanya sampai setelah UM berakhir dan keraguan Pak Awal terhadapku terjadi sehingga aku merasa kurang enak bila berpapasan dengan beliau. Disisi lain, untuk Marching Band, aku memiliki alasan yang orang lain belum ketahui, bahkan orang tua pun tidak kuceritakan. Alasan aku meninggalkan atau keluar dari Marching Band adalah karena aku merasa kurang nyaman dengan teman-teman seangkatanku yang telah terlebih dulu menjadi anggota dan aku merasa tertekan dengan berbagai langkah latihan yang semakin lama mejadi lebih berat seperti saat aku dan teman-teman pemegang pitch untuk tidak melihat kearah bawah dan selalu melihat FC pada saat tampil, terlihat lemah dan sangat pecundang ya, tapi mau bagaimana lagi, semua telah terjadi, sekarang aku kembali lagi menjadi siswa biasa yang hanya berangkat untuk belajar dan pulang tanpa ada kegiatan ekstrakurikuler. Thanks a lot untuk semua pengalaman yang luar biasa, mengenakan kostum kuning dan merah dengan membawa pitch merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dan kedispilinan,kekeluargaan, dan segala bentuk persatuan di dalam Marching Band menjadikannya ekstrakurikuler yang tetap aku cintai. Bagaimana dengan OSIM?, Aku sempat membuat surat pengunduran diri sebagai Sekertaris dan pada akhirnya aku tidak diperbolehkan untuk mengundurkan diri, So, aku harus bertahan di OSIM hingga nanti pada saatnya. Singkat cerita, aku sempat menyesal karena pada saat LIGA OSIM yang dilaksanakan Januari sampai Februari, aku tidak pernah hadir dan turut membantu dan hanya memberi sedikit bantuan pada saat Babak Final. Hingga kini entah mengapa setiap kali aku mengingatnya, hanya ada penyesalan yang ada dan rasanya ingin semua terlurang kembali bila diberi kesempatan.

Komentar